Selamat Datang di Blognya Aniqoh

Surat Wasiat

23 agustus 2004
Nenekku selalu mengajariku bagaimana cara sholat yang baik. Setiap suara adzan dikumandangkan, aku selalu dipanggilnya untuk berjama'ah di surau depan rumah. " Le, kamu harus bisa menjadi imam seperti Bapakmu".
" Ngajimu harus lebih bagus dari bapakmu. Dulu kakekmu selalu mengajarinya bagaimana cara ngaji yang baik. panjang pendeknya suatu bacaan dan..". kenang nenek sambil mengelus Wajahku.
Aku terharu melihat wajah nenek yang sudah mulai keriput dimakan usia.
Sebenarnya aku masih memiliki kedua orang tua. lengkap dengan kakek dan nenek. hanya saja aku lebih disayang dengan nenek dari ibu. lebih tepatnya selalu dimanjakan. Semenjak kakek meninggal. kasih sayangnya selalu tercurah kepadaku. Karena aku lahir tepat pada hari meninggalnya kakek.
kata nenek aku suami kecilnya.
Apapun keinginanku selalu diturutinya.
Walaupun kadang menimbulkan kontrofersi dengan ibu dan bapakku.
"Ojo kwater Le..ibumu wes tak Profokasi.."
suatu ketika aku ingin minta dibelikan gitar dan bola Volly.
Aku suka menyanyi dan main volly. walaupun aku sering bermain gitar dan bola dengan suara nyaring. tidak pernah dimarahi. hal ini membuatku dimanjakan dengan keadaan.
Namun, Tuhan selalu berpihak kepadaku. Aku selalu benar dimata nenekku. Sehingga tidak ada yang berani dengan titah nenek. Sebagai ketua keputrian rumah, nenek selalu menang dengan argumen yang kadang terlalu dipaksakan. untungnya aku tidak pernah mengecewakan mereka dalam hal apapun. otakku yang brilian dengan kemampuan yang bisa dibanggakan. baik akademis maupun non akademis.
aku selalu menjadi kejuaraan di setiap vestifal yang aku ikuti.
"Nek makasih ya...." Syukurku dlam hati mengingatnya.

20 september 2004
Nenek yang selalu melakukan hal ajaib dihadapanku. biasa membuat jarinya memutar. Bergelok dengan tangan hias diatas bulatan giok yang selalu dibawanya. kemanapun nenek pergi tak lupa dengan hiasan tangannya.pasti menyimpanya di saku. yaitu, tali yang selalu melingkar di perutnya. Walaupun kadang selalu celingukan mencarinya. kemana-mana nenek selalu membawa tasbih kecilnya. namun, nenek begitu sabar menuntunya. hanya sebentar-bentar terjaga dari tidurnya.
" Kapan kamu berangkat Nas.."
"Entah lah Nek..mungkin satu minggu lagi"
"Jangan lupa doakan nenek ya...semoga panjang umur dan bisa bertemu kembali denganmu."
" iya nek". tak terasa mataku lembab dengan air mata yang deras. membasahi jantung dan jiwaku. sehingga meronta. Menggelora. Karena akan meninggalkan orang-orang terkasih.
Aku mendapat Beasiswa untuk berangkat ke Mesir. Melanjutkan jenjang Licence di Universitas bergengsi dan tertua di Dunia. Yaitu Al-Azhar. Yang selalu menjadi impian bagi seluruh pelajar di Dunia.
"Le, Bawa ini ya. Buka setelah kau sampai di Mesir."
"Iya Nek."
Sebelum berangkat nenek membiskkan sesuatu ditelingaku.
Aku selalu ingat dengan kata-kata itu.
namun aku sering melupakanya. bahkan tidak melafazdkannya diwaktu pagi dan sore.

5 oktober 2004
Aku menginjakkan kaki pertama kali di mesir. Aku sedikit kaget dengan pemandangan alam yang sangat berbeda dengan negriku yang biasa disebut jambrut Katulistiwa. dengan keinadahan alamnya yang mengikat dan rakyatnya yang ramah membuat negriku seperti di syurga.
" Andai agama Islam turun di Indonesia mungkin tidak akan ada yang mau masuk islam."
" Pantas kalo di negri arab...Karena panasnya begini...." Aku terngiang dengan surat al-baqoroh yang remang-remang aku menghafalnya.Surga Al-Firdaus, Konon menjadi taman impian bagi umat manusia, didalamnya mengalir telaga Kustar yang tak pernah kering dengan embun kebahagiaan. tak terjangkau alam bawah sadar. Ditemani para Bidadari kayangan dari langit.

10 Desember 2004
Aku tinggal di kawasan h-10. tidak tinggal di asrama Buust al-islamyah yang terletak di kawasan Abbasea. Karena tidak ingin terikat seperti di pondok dulu. Aku tinggal berlima dengan keempat kawanku. Imam, Fatih, Muhammad dan Roni. Aku lumayan dekat dengan Roni. dia teman seangkatanku waktu di ma'had.
" Ron...mau kemana?"
" ke Warnet.."
" Chating ya..."
" Iya....yuk ikut"
"iya..."tanpa basa-basi aku langsung meluncur dibelakang Roni. aku teringat dengan nenekku. Biasanya yang masak, menyiapkan baju, dan memberku uang adalah nenek. walaupun
ah..nenek...aku rindu padamu. namun hanya semu dalam kalbu.
"aku pingin telfon rumah." bisiku dalam hati. belum bisa aku menghubungi rumah. Wakti sudah menunjukkan pukul 15.00. Tidak terasa, sudah tiga jam aku berasyik ria dengan internet.
Stelah beberapa hari di Mesir. serasa dibuaikan dengan fatamorgana yang fana. Aku hampir lupa dengan tujuan awalku dari rumah. mulai dengan game, Sisha, film, jalan-jalan dan masih banyak hiburan baru yang aku gemari. aku semakin nyandu dengan rokok. bahkan sisha rasa strawbery tak pernah terlewatkan.

25 desember 2004
Ujian term pertama akan dimulai besuk. Dengan keterbatasan kosakata yang aku miliki membuatku sulit untuk memahami muqoror yang selalu kupegang. Dengan kamus al-Asry yang selalu menemaniku belajar.
Siang malam aku belajar.Dengan bimbingan kak Fatih akhirnya mampu untuk menakhlukkan Muqoror dengan berbagi jurus yang aku praktekkan.
" Kak belajar bahasa Arab itu sulit ya?"
"Nggak juga, jika kamu mau terus belajar dan berusaha pasti bisa."
"Tapi..."
"tapi kenapa Nas, Bukankah kamu sudah berusaha. Ingatt..Alloh tidak akan menzalimi hambanya."
"Tapi Anas takut kak..takut ngecewain semua orang.terutama nenek."
"Iya..kakak juga tahu..."
"Tetap semangat ya doa kakak selalu menyertaimu, seberat apapun harus tetap dijalani."

24 maret 2005
"Seorang laki-laki itu lemah"
"Tubuhnya dikaruniai otot dan tenaga yang kuat daripada kaum perempuan, untuk melindungi hati dan perasaanya yang gampang sekali rapuh untuk menghadapi cobaan hidup. Seperti sang Bima dalam cerita pewayangan.kelihatanya saja kasar dan tak mau mengalah. Tapi sebenarnya dia tidak memiliki apa-apa selain kekerasan itu. Hanya itu bekalnya untuk menutupi dirinya yang serba kekurangan."
"Kamu jangan egois."
"Tapi aku harus bagaimana kak?"
" Wanita bukanlah makhluk lemah, tapi makhluk yang kuat."
"Dewi Arimbi adalah raksasa yang perkasa, tetapi keperkasaanya bukan keperkasaan jasmani, melainkan keperkasaan rohani. Di dalam riwayat hidup putra kedua pandawa ini, Bima dikenal sebagai lambang kekasaran dan kejujuran, tetapi bima tidak pernah melakukan kesalahan-kesalahn rohani, sebagaimana yang dilakukan oleh Arjuna. Dia selalu teguh, karena Bima memiliki seorang yang perkasa didalam rumah tangganya. Ia punya dewi arimbi yang memberinya seorang putra perkasa Gatutkoca."
" Jangan terlalu dipikir, nanti sekolahmu tambah berantakan."
" Bapakmu kawin lagi mungkin ada alasan lain."
"Tapi kenapa nggak bilang sama Anas kak?"
"Kamu harus seperti Gatutkoca."
"Ambillah hikmah yang tersimpan dari Rahasia Tuhan selama ini."
"Karena kita nggak tahu apa yang akan terjadi."
" Jangan Sedih lagi!"
" Kita hanya menjalani hidup. Kita diberi akal untuk memilih. Kamu jangan sampai kalah dengan bapakmu."
" Tunjukkan kepada ibumu."
" Dia butuh anak yang soleh untuk dijadikan cermin, kalo cerminya pecah dia akan ngaca pada siapa lagi".
"Kuatkan dirimu..!!"
"Jalan hidupmu masih panjang."
Kata-kata kak Fatih masih terngiang keras ditelingaku. membuatku tenang, namun ketenangan itu tidak betah tinggal dibenakku. hanya beberapa jam aku tenang. Aku teringat tangisan ibu, terisak menyesak di dalam hati. terus menangis. sampai bengkak kedua matanya oleh air.
Hanya diam yang bisa aku lakukan. Berdo'a agar Ibu betah menghadapi bapak yang Keras Kepala. Bapak sering marah dan suka kalap. kalau sudah kalap selalu lupa daratan. Apapun yang ada didepannya selalu dilempar. Padahal Bapakku adalah cermin bagi masyarakat. Andai mereka tahu busuknya bapakku. Mungkin tidak ada yang mau memanggilnya Pak Kyai.

12 Agustus 2005
Aku Roshib....Itu natijah yang aku terima. walaupun aku sedih, tapi kesedihanku tidak sebanding dengan kesedihan yang dialami ibu.
Hidupku di Mesir semakin berantakan. tidak jelas dan tidak tahu jluntrungnya. Kak fatih yang selalu menasehatiku entah kemana sekarang. Aku ditemani kesedihan, kepiluan dan kekecewan.
Kebahagian itu tidak lagi mampir dalam jiwaku. Aku jarang tersenyum dan kelihatan sayu.
" Le gimana Natijahmu?"
"Alhamdulillah bu."
"Syukurlah Le, Ibu juga ikut seneng."
Aku rela berbohong untuk natijahku ini. karena ini adalah tanggungjawabku. Dan aku tidak ingin melihat kesedihan lagi diraut muka ibuku. Suatu saat pasti aku akan jadi orang sukses.
"Jaga diri baik-baik ya Le."
" Cepet Pulang."
" Semoga apa yang kau impikan diijabahi Pengeran seng nggawe urip."
"Ojo lali sholate tepat waktu. Ojo sering diqodlo sholate. terutama sholat subuhe ojo campur karo serngenge."
Tiba-tiba telfon terputus. Mungkin pulsanya sudah habis. Tidak terdengar lagi suara ibu yang merdu mendera ditelingaku.
memberi ketentraman tersendiri dalam Kalbu.

17 Oktober 2005
Hari ini adalah hari Ulangtahunku yang ke-22. Ibu, bapak dan nenekku selalu memberi ucapan dan kado. walaupun seringnya hanya untaian kata yang tak bernyawa, aku tetap senang mendengarnya. Bahkan, tiap tahun di ulangnya aku tidak akan pernah bosan. Karena hari itu adalah hari bersejarah bagiku. Hari yang sangat aku tunggu.
Kini Suara tawa ibu dan Bapakku tidak serenyah yang dulu. Aku kembali kalut.
Walaupun mereka masih ingat hari ulangtahunku tapi keharmonisanya agak berkurang. Tak kudengar lagi sendau gurau dalam telfon. kata-kata datar dan hambar yang ku dengar.
Tapi kali ini lain. Kenapa nenek nggak ikut telfon. Apa yang terjadi.
Aku berusaha menghilangkan file-file buruk yang ada didalam otakku. Aku menepis kemungkinan yang terjadi pada nenekku. Tiba-tiba aku teringat dengan bingkisan nenek yang belum aku buka. Aku mencarinya di koper. Ternyata masih tersimpan rapi di selipan koper. aku lupa membukanya. karena tak terjangkau oleh mataku. Perlahan kubuka apa yang dibungkus nenek. sebuah tasbih dan surat.
Terdengar suara dering hp kesayanganku.
"Halo..."
"Alhamdulillah...knapa bu."
"Ada apa Bu...kok ibu menangis?"
" Apa yang terjadi?"
" Katakan pada Anas Bu."
"Innalillahi wa Inna Ilai Roji'un."
aku tidak bisa membawa perasaanku. aku nggak kuat jika harus ini yang aku terima.
Perlahan kubuka surat nenek dengan gemetar membasahi relung jiwaku. Serasa dunia menjatuhiku dengan beban yang berat. knapa ini bertepatan dengan tanggal lahirku????
by; Cioh

Lihat Selengkapnya...>>

Mode Busana Dalam Perspektif Islam

Mukadimah (Menolak Mentah-Mentah "Pakaian Islami"). Puji syukur kehadirat Allah Swt. atas karunia dan rahmatNya yang telah menaungi seisi jagat raya "Inna rahmati wasi'at kulla syai'". Shalawat serta salam kita haturkan kepada junjungan Baginda Nabi Muhammad Saw. yang telah dianugerahi rahmat spesial dari Allah Swt. "Yakhtassu birahmatihi man yasya'". Amma ba'du… Otobiografi Islam telah membuktikan kesederhanaannya disamping kesempurnaanya, namun belakangan ini umat Islam kesambet roh-roh kedunguan. Memang seharusnya ia tak sesial itu, tapi apalah daya, kebenaran dan kebathilan telah menjadi sepasang suami isteri yang tak kunjung cerai walau selalu tengkar siang dan malam. Islam begitu menghargai budaya dan menjunjung etika, sudah sepatutnya iapun dihormati para pemeluknya. Sayang, tak seindah yang dibayangkan, perlahan-lahan ia dipaksa untuk menuruti birahi manusia, karena manusia begitu egois dan sok mulia, ia gengsi untuk patuh sepenuhnya pada isyarat agama.
Entah mengapa, seseorang yang "muslim" dan seseorang yang "muslimah" harus diserupakan dengan ikan sarden! Ia harus dibungkus oleh kaleng resmi produk sendiri. Kaleng itu ada yang impor dari Saudi, ada juga yang karya dalam negri. Kaleng itu berupa jubah, tongkat dan serban, atau berupa baju koko, peci dan sarung. Kaleng buat ikan betina tentu berbeda dan tak kalah uniknya, ia berupa kain kafan yang gelap membungkus semua tubuh indahnya, atau berupa busana antik yang -dianggap- menghiasi kemuslimahan pemakainya.
Kaleng-kaleng itu dibayar kontan oleh para peserta konsuliasi umat. Mereka optimis bahwa kaleng-kaleng itu dapat menciptakan kolektifitas yang diidamkan. Kaleng-kaleng itupun diberi nama "Islami" dan selainnya -seolah- keluar dari kota suci Islam. Tanpa menentang taradisi dan budaya tiap-tiap suku dan bangsa, penulis sekedar meluncurkan sebuah tanda tanya, mengapa kehidupan beragama semakin membeku oleh tradisi budaya?! sehingga bad image nyaris teruntukkan bagi komunitas jelata yang mencoba hidup merdeka dalam kesehariannya. Alangkah naifnya bila santapan Islam yang begitu lezat dan bergizi itu tak lagi renyah dan sukar untuk dikunyah segenap penganutnya.
Berbicara soal pakaian dalam Islam, tidak perlu merujuk pada analisa yang sempit terhadap teks-teks agama. Hal itu mesti dikubur dalam-dalam untuk menjaga kemurnian Islam. Lahirnya pakaian-pakaian Islami merupakan akibat yang cukup fatal dari kebodohan sekaligus pembodohan tersebut. Jelas-jelas istilah pakaian Islami adalah bid'ah yang tidak diperlukan umat, karena Islam tidak pernah membuat sebuah seragam bagi para pemeluknya, Islam bukan pondok pesantren, partai politik atau sejenisnya, melainkan Islam telah menganugerahi kebebasan mutlak bagi umat dalam berpakaian, selama tidak melewati tiga batas yang sudah digariskan : 1. Tidak membuka aurat, 2. Tidak menampakkan kulit (transparan), dan 3. Tidak membentuk tubuh (ketat). Tanpa melanggar tiga poin di atas, maka silahkan saja pakai apapun jenis pakaian itu dan anda tetap muslim / muslimah (kecuali kain sutera, haram bagi laki-laki saja).
Islam juga tidak lupa menganjurkan untuk berpakaian bersih dan rapi, enak dipandang mata dan sebaiknya mengikut tradisi lingkungan sekitar. Persis sebagaimana Rasul Saw. yang memakai jubah bukan karena jubah tersebut merupakan pakaian yang Islami, akan tetapi karena beliau harus menjalani adat yang sudah membudaya di sekitarnya. Kalau memang jubah dikatakan pakaian Islami, lalu mengapa Abu Jahal juga memakainya?! Jubah itu sebatas pakian orang Arab, dan karena Rasulullah diutus di Arab, maka beliau pun memakai pakaian orang Arab. Seorang muslim yang cerdas bila bermaksud mengikuti jejak Rasul, ia tidak akan memakai jubah, justru ia akan memakai pakaian kampungnya, sebagaimana Rasul dulu memakai pakaian kabilahnya. Dari itu para kiyai Indonesia yang memakai jubah dan serban justru dipertanyakan keikutannya kepada sunnah Rasul sekaligus ke-Indonesia-annya !!
Diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: "Orang alim yang memakai pakaian orang jahil lebih baik dari orang jahil yang memakai pakaian orang alim". Penulis sangat prihatin ketika seorang sahabat enggan mengikuti seorang wali besar hanya karena sang wali memakai jas dan dasi, dan tidak menutupi kepalanya dengan serban atau peci. Sahabat lain tidak mau mendengarkan nasehat seorang mursyid hanya karena mursyid tersebut mamakai celana jeans! Kebekuan macam apa itu?! Mengapa pelepasan peci dijadikan aib? sementara terbungkusnya akal dan hati oleh kesempitan dan kekolotan tidak dianggap aib?! Nasehat para pendahulu kita adalah "Jangan tertipu oleh kemasan". Sayangnya, kita masih saja tertipu, bahkan kini, kita lah yang menipu dunia dengan kemasan kita !!
Penulis tidak melempar kritik sedikitpun atas jubah, serban, baju koko, peci, sarung dan yang senilai dengannya. Namun penulis hanya bermaksud sekiranya jenis-jenis pakaian itu tidak perlu di-Islami-kan secara berlebihan. Komunitas muslim yang tidak memakainya janganlah dicela dan disisihkan, karena hal itu akan membodohkan orang awam sekaligus menyempitkan asumsi dan respon mereka terhadap wawasan keislaman dari segala sisinya, sekali lagi, dari segala sisinya. Wala haula wala quwwata illa billah. Cadar, Sehelai Kain Yang Tak Relevan. Bukan saatnya lagi memperdebatkan hukum memakai cadar bagi wanita muslimah. Sudah disepakati jumhur ulama' bahwa cadar tidak wajib untuk dipakai. Wajah wanita tidaklah aurat, begitu juga tangannya, demikian pula suaranya. Dalam shalat yang merupakan tiang agama, wanita tidak diharuskan memakai cadar. Bahkan dalam ibadah haji, justru diharamkan bagi wanita memakai cadar dan sarung tangan. Rasulullah Saw. bersabda : " لا تنتقب المرأة المحرمة ولا تلبس القفازين " Padahal, ketika haji dilaksanakan, percampuran laki-laki dan perempuan terjadi secara besar-besaran dan di lokasi yang amat sempit. Bagi mereka yang bercadar dengan alasan mencegah fitnah dan godaan laki-laki, bukankah dalam ibadah haji fitnah dan godaan itu lebih dikuatirkan?! Di sisi yang lain, kalau memang cadar dipakai untuk mencegah fitnah dan godaan laki-laki iseng, maka kaum laki-laki sebetulnya lebih pantas memakai cadar. Al-Qur'an menceritakan Siti Zulaikha yang terus-menerus menggoda Nabi Yusuf dan sejumlah wanita yang memotong tangannya -tanpa sadar- saat melihat wajah ganteng beliau. Tidak ada perintah ataupun sebatas anjuran bagi Nabi Yusuf untuk memakai cadar!! Dan di akhir zaman ini wanita lebih banyak dan lebih iseng terhadap laki-laki. Tidak ada satupun laki-laki yang perlu pakai cadar!! Terdapat beberapa kritikan, asumsi dan tanda tanya lain yang cukup menarik dari pihak laki-laki tentang cadar, di antaranya apakah wanita yang bercadar su'uzzon sejauh itu terhadap laki-laki di sekitarnya sehingga mamakai cadar?! Di tempat lain akan ditemukan pula sejumlah laki-laki yang mengeluh karena hendak menikah dan melakukan khithbah atau mukadimah khithbah, namun kesulitan sekali sebab mayoritas wanita di hadapannya bercadar!! atau mungkin saja wanita yang dicarinya kebetulan bercadar!! Karena dalam mazhab Syafi'i disyariatkannya mukadimah khithbah agar tidak mengecewakan kaum hawa, maka cadar adalah salah satu penghalang terjadinya mukadimah khithbah dan salah satu sebab yang dapat mengecewakan kaum wanita. Apapun asumsi orang, cadar tetaplah kain yang tidak dianjrkan (tidak diwajibkan) Islam. Cadar tetaplah kain yang dilarang (diharamkan) Islam di saat pelaksanaan upacara ritual yang paling riskan (haji)! Semoga dapat menjadi bahan renungan. Jaga Mata Before Kritik Busana. Sampailah kita pada poin yang lebih penting dari sekedar kemasan. Daripada ribut menyalahkan pakaian orang, alangkah afdolnya kita lebih aktif dalam menjaga pandangan. Disini kita harus membedakan antara ghaddlul-bashar, kafful-bashar, ghaddlunnazar dan kaffunazar. Allah berfirman dalam surat al-Nur ayat 30 dan 31 : " قل للمؤمنين يغضوا من أبصارهم " " وقل للمؤمنات يغضضن من أبصارهن " Pada kedua ayat di atas kita diperintahkan untuk ghaddlul-bashar yakni menahan pandangan secara natural tanpa harus menutup mata atau menundukkannya secara terpaksa. Artinya, seseorang yang ghaddlul-bashar bisa saja memandang namun pandangan itu tidak berefek negatif pada sang pemandang. Itulah yang disebut ghaddlul-bashar yang sesungguhnya. Sebab ghadl dalam bahasa arab bermakna subur dan segar (bagi buah-buahan), dimana buah-buahan bila telah matang, ia secara alami menjadi segar dan rasanya tidak dipengaruhi apapun di sekitarnya. Begitu pula pandangan (bashar) kalau sudah ghadl maka ia akan tetap normal dan tidak tergoda oleh apapun yang dilihatnya. Senada dengan hadits yang menyatakan bahwa "Pandangan pertama untukmu (dimaafkan) dan pandangan kedua atasmu (haram bagimu)". " لا تتبع النظرة النظرة فإنما لك الأولى وليست لك الآخرة " Hadits ini acapkali disalahmengerti sehingga seseorang direpotkan dalam mengontrol pandangannya. Makna yang tepat untuk hadits tersebut adalah, pandangan pertama yaitu pandangan yang berarah pada sesuatau yang dapat menggoda, sedangkan pandangan kedua adalah pantulan pandangan pertama berupa efek negatif (godaan) yang kembali menuju mata hati si pemandang. Pandangan kedua itulah yang terlarang!. Adapun menundukkan pandangan dan berusaha sekeras tenaga untuk tidak memandang, itu tidak dinamakan ghaddlul-bashar, melainkan kafful-bashar. Karena pandangan seseorang ditundukkan bahkan dipejamkan secara sengaja dan kadang terpaksa. Sedangkan ghaddlul-bashar adalah memandang -secara tidak sengaja- tanpa mengindahkan apa yang dipandang (secara alami). Dan ghaddlul-bashar lah yang dituntut Islam. Adapun ghaddlunnazar dan kaffunnazar, ini sudah berkaitan dengan bola mata dan indra penglihatan manusia, dan bukan sekedar pandangannya. Ghaddlunnazar adalah semakna (sinonim) dengan kata kafful-bashar, sementara kaffunnazar adalah sengaja membutakan mata sendiri agar tidak lagi dapat melihat!. Esensi dan Urgensi "Libas al-Taqwa". Allah Swt. berfirman dalam surat al-A'raf ayat 26 : " يا بني آدم قد أنزلنا عليكم لباساً يواري سوءاتكم وريشاً ولباس التقوى ذلك خير " "Hai anak Adam , sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang terbaik". Pakaian takwa dalam ayat di atas telah ditafsirkan Saidina Ibnu Abbas Ra. dengan perkataannya : لباس التقوى هو العمل الصالح "Pakaian takwa adalah perbuatan yang mulia". Adapun Syekh Ma'bad al-Juhani mengatakan : لباس التقوى الحياء "Pakaian takwa adalah rasa malu". Sebagiamana pakaian menutupi aurat tubuh manusia sekaligus menghiasinya, maka takwa adalah seindah-indah pakaian yang menutupi aurat hati dan menghiasinya. Sehingga aurat zahir dan batin sama-sama terhindar dari tabarruj, dimana tabarruj adalah : التبرج هو إظهار الزينة طلباً للفاحشة Tabarruj ialah menampakkan hiasan untuk mengundang kekejian. Artinya, apabila hiasan itu hanyalah perhiasan dan tidak bertujuan maksiat, maka tidak dinamakan tabarruj. Dalam ayat di atas juga ditegaskan bahwa ketakwaan hati adalah lebih urgen dan lebih baik dari sekedar pakaian / kemasan tubuh. Sungguh, zaman sekarang tidak jarang wanita berjilbab bahkan bercadar, tapi perangainya bejat, hati dan akalnya pun kotor. Allah Swt. berfirman : " تزودوا فإن خير الزاد التقوى " "Berbekallah! Sesungguhnya sebaik-baik bekal untukmu adalah takwa". Pedoman Pakaian Muslimah. Wanita secara fithrah adalah perhiasan, keindahan, menyenangkan dan memiliki potensi kuat membawa kedamaian sebagaimana memiliki potensi untuk dijadikan alat oleh orang kafir dalam kerusakan. Potensi tersebut akan bisa terealisasi apabila ia ditata sedemikian rupa mengikuti ajaran yang fithri yaitu Islam. Untuk itu di antaranya Islam memberikan rambu-rambu yang jelas dalam masalah pakaian wanita agar tetap ada keseimbangan antara estetika dengan syariah.
Pakaian yang dikenakan oleh wanita muslimah secara syar’i ditinjau dari kondisi yang melingkupinya dapat dikelompokkan menjadi tiga; pertama, pakaian di hadapan mahram. Kedua, pakaian di hadapan suami. Dan ketiga, pakaian di hadapan lelaki ajnabi atau orang secara umum.
a) Mahram bagi perempuan adalah orang yang diharamkan menikahinya untuk selama-lamanya, karena adanya hubungan kekerabatan atau susuan. Yang termasuk mahram bagi wanita adalah ayah, kakek, paman, anak, cucu dan anak saudara laki-laki maupun saudara perempuan. Wanita di hadapan mahram diperbolehkan membuka beberapa bagian tubuh yang tidak boleh dilakukannya di hadapan selain mahram. Di antara yang boleh kelihatan di hadapan mahram adalah anggota wudlu. Selain dari mahram yang telah disebutkan tersebut, masih ada beberapa kelompok orang yang boleh melihat anggota wudlu seorang muslimah, yaitu anak kecil yang belum balig, budak, dan sesama muslimah.
Diriwayatkan bahwa Siti A’isyah Ra. mengagumi kejujuran Saidina Salim Sablan dan beliau sering memerintahkan sesuatu padanya. Pernah Siti A’isyah memperlihatkan padanya bagaimana Rasulullah Saw. berwudlu, Maka Siti A'isyah berkumur-kumur dan memasukkan air ke hidungnya tiga kali, membasuh mukanya tiga kali, kemudian membasuh tangan kanannya tiga kali dan tangan kirinya tiga kali, dan meletakkan tangannya pada bagian kepalanya sambil mengusapkan kedua tangannya ke telinga kemudian dilakukannya pula pada kedua pipinya, kata Saidina Salim "Aku pernah mendatanginya untuk menebus diri, waktu itu Siti A'isyah tidak menyembunyikan dirinya dariku dan ia duduk di hadapanku serta bercakap-cakap denganku sampai aku pernah datang pada suatu hari dan kukatakan padanya, do’akan aku mendapat berkah wahai Ummul-Mu'minin, Tanya Siti A’isyah "Ada apa dengan engkau wahai Salim?" Jawab Saidina Salim "Aku telah dimerdekakan oleh Allah". Kata Siti A’isyah, "Semoga Allah memberi berkah kepadamu" kemudian Siti A’isyah menurunkan tabirnya dariku dan sejak itu aku tak pernah melihat wajahnya lagi". b) Dalam syariat Islam, suami bagi isteri ibarat pakaian bagi seseorang. Mengingat posisi yang demikian maka pakaian isteri di hadapan suami tidak ada batas mana yang seharusnya ditutup. Siti A’isyah Ra. berkata "Saya dan Rasulullah Saw. mandi dari satu bejana karena junub".
c) Ajnabi adalah laki-laki yang boleh menikahi seorang wanita, baik ketika hak menikahinya itu masih tetap atau terhalang. Yang dimaksud dengan terhalang misalnya adalah seorang suami yang ada dalam keadaan talak ba'in, meskipun untuk sementara dia kehilangan hak menikahi wanita, tetapi statusnya tetap sebagai ajnabi. Di hadapan ajnabi itu seorang muslimah harus menutupkan pakaiannya ke seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Sabda Rasulullah Saw. kepada Siti Asma' binti Saidina Abi Bakar Ra. "Sesungguhnya wanita yang telah datang bulan, tidak pantas untuk memperlihatkan bagian tubuhnya kecuali ini dan ini sambil menunjuk ke muka dan telapak tangan".
Adapun rambu-rambu yang harus dipenuhi dalam menutup aurat tersebut, telah disebutkan di atas (yaitu tiga poin pembatas pakaian dalam Islam). Hanya saja terdapat beberapa hal yang perlu didiskusikan, di antaranya : 1. Ada sebagian pihak yang tidak memperkenankan wanita memakai pakaian laki-laki, begitu juga sebaliknya. Mungkin hal itu dipandang merusak karakter, namun, perlu diingat bahwa pakaian secara 'urf adalah bersifat fleksibel. Adapun hadits yang menyatakan bahwa "Allah melaknat laki-laki yang menyerupai wanita, dan wanita yang menyerupai laki-laki" maka hadits itu tidak menyinggung / menyindir pakaian secara khusus. Akan tetapi yang dimaksud adalah kaum laki-laki yang gay dan kaum wanita yang lesbian. Sebab dalam keadaan seperti itu (homoseksual) terjadilah penyerupaan yang fatal atau penyalahfungsian kelamin secara tidak normal. 2. Sebagian pihak melarang keras pakaian yang mengandung gambar / lukisan makhluk hidup. Ini adalah upaya pemandulan terhadap seni lukis dan keindahan, dimana Islam tidaklah anti itu semua. Dan bukan saatnya lagi memperdebatkan hukum menggambar dan melukis!.
3. Sebagian pihak juga melarang keras wanita untuk berwangi-wangian. Pertanyaannya adalah, apakah wanita harus berbau busuk dan berpakaian seperti pocong ?!? Rasulullah Saw. hanya melarang wanita untuk menggunakan parfum yang baunya dapat menantang maksiat dan kekejian. Tidak lebih dari itu. Sebab wanita zaman jahiliyah dulu suka berbuat demikian dan Rasulullah tidak menyukainya. 4. Katanya, tidak boleh menyerupai orang-orang kafir dalam berpakaian. Hemat penulis, menyerupai zahir suatu kaum tidak selalu merupakan indikasi terhadap adanya persamaan teologi dengan mereka yang ditiru. Tidak pula merupakan bentuk pengakuan akan superioritas orang yang ditiru, atau indikasi cinta kepada yang ditiru. Karena orang majusi mengelilingi api untuk menyembah, maka kita boleh-boleh saja meniru dengan mengelilingi api, tapi sekedar untuk berhangat-hangatan, bukan menyembah. Niat merupakan pembeda yang sudah cukup. Adapun hadits "Barang siapa menyerupai suatu kaum maka termasuk dari golongan mereka". Hadits ini sesungguhnya memuji orang-orang jelata yang menyerupai / meniru orang-orang shalih dalam keseharian mereka. Karena seorang penyair mengatakan : تشبهوا بالكرام إن لم تكونوا مثلهم # إن التشــبه بالكــرام فـلاح Walau tak ada kesamaan, tirulah orang-orang mulia… Walau sekedar tiruan, yakinlah anda akan jaya!. Jadi, hadits di atas jangan ditafsirkan jauh-jauh. Karena orang yang berniat buruk tidak akan mendapat dosa sebelum melakukannya, sedangkan orang yang berniat baik sudah dapat pahala sebelum melakukannya. Begitu juga orang yang meniru orang kafir, tidak akan dinilai kafir jika tidak disertai niat (kesamaan keyakinan), sementara orang yang meniru orang shalih (walau zahirnya saja), insya'allah dapat juga gelar shalih. MuMut

Lihat Selengkapnya...>>

TANYA JAWAB TEOLOGI SUFI

T: Tentunya tiada tuhan selain Allah.

J: Pasti.

T: Apa maksud dari Tiada tuhan selain Allah (La ilaha illallah)?

J: Maksudnya: Tiada satupun yang memiliki kriteria tuhan (sebagian maupun seluruhnya) melainkan Allah.

T: Kriteria tuhan?

J: Iya. Karena hanya Allah saja yang memenuhi kriteria itu maka dari itu tiada tuhan selain-Nya, dan tiada patut disembah melainkan Dia saja. Saya mengucapkan kalimat La ilaha illallah (Tiada tuhan selain Allah) sebab saya yakin hanya Dialah satu-satunya yang mempunyai kriteria tuhan.

T: Kalau ternyata saya juga memiliki kriteria itu bagaimana?

J: Siap saya sembah juga..!!

T: Loh...!!!!!!!!!

J: Iya. Seandainya ada 1000 orang memiliki kriteria itu maka saya siap menyembah 1000 orang itu semuanya tanpa kecuali.

T: Apa saja kriteria tuhan itu?

J: Ada empat kriteria, yang disebut dengan Muqtadlayat Uluhiyyah; Sabq, Ithlaq, Sarmadiyyah dan Dzatiyyah.

T: …………….. !?!?!?!?!?!?!?!

J: Iya cuma empat saja. Sabq artinya: tidak ada yang mendahlui-Nya. Tidak ada satupun mendahului keberadaan-Nya. Yang awal tanpa permulaan.

T: Apa itu Ithlaq?

J: Ithlaq artinya: mutlak dan tak terbatas, bebas dari ruang dan waktu.

T: Apa itu Sarmadiyyah?

J: Sarmadiyyah artinya: kekal dan abadi, tidak ada akhirnya.

T: Apa itu Dzatiyyah?

J: Dzatiyyah artinya: tidak ada yang mengajar-Nya, tidak ada yang menciptakan atau memberikan-Nya. Zat-Nya, semua yang ada pada-Nya, semua nama dan sifat-Nya, semua yang dimiliki oleh-Nya adalah 100% murni dari-Nya, bukan dari selain-Nya.

T: ……………..

J: Siapapun yang zatnya maupun sifatnya memiliki keempat kriteria tadi maka dia adalah tuhan yang patut disembah.

T: Fir’aun misalnya?

J: Fir’aun… coba kita seleksi bersama apakah dia tuhan yang patut disembah atau tidak? Kita mulai dari zatnya, dan kita seleksi melalui empat kriteria tuhan satu-persatu. Apakah Fir’aun orang yang pertama kali ada? bukankah banyak yang mendahuluinya? bukankah ia diciptakan dan dilahirirkan?

T: Banyak yang mendahuluinya. Ia diciptakan dan dilahirkan. Ia bukan yang awal.

J: Berarti dia sudah tidak lulus seleksi sejak kriteria pertama (Sabq).

T: Ooo…

J: Apakah ruang dan waktu telah membatasinya?

T: Iya… Berarti zatnya juga tidak memiliki kriteria kedua (Ithlaq).

J: Apakah Fir’aun masih hidup sampai sekarang?

T: Tidak. Ia sudah berakhir dan mati… Berarti zatnya tidak punya kriteria ketiga juga (Sarmadiyyah).

J: Apakah zatnya berasal dari dirinya pula? atau ada sumber dan asal usulnya?

T: Tentu ada, sebab ia diciptakan Allah dan dilahirkan kedua orang tuanya… Berarti kriteria keempat (terakhir) pun tidak dimilikinya.

J: Maka Fir’aun tidak pantas jadi tuhan.

T: Tapi Fir’aun punya sifat kuat, berilmu, berkuasa dan lain sebagainya.

J: Kita sudah menyeleksi zatnya. Sekarang mari kita seleksi sifat-sifatnya. Kekuatan, penglihatan, pendengaran, kekuasaan, ketinggian, kejayaan dan kekayaan yang dimiliki oleh Fir’aun, apakah ia yang pertama kali memilikinya?

T: Tidak…

J: Semua sifat-sifat dan kekayaan maupun otoritas yang dimiliki Fir’aun apakah bersifat mutlak?

T: Sudah pasti terbatas.

J: Apakah sifat-sifatnya itu tetap melekat padanya untuk selama-lamanya?

T: Sejak mati maka semua sifatnya lepas darinya.

J: Apakah semua sifatnya berasal dari dirinya tanpa ada yang memberikan atau mengajarnya?

T: Sudah pasti ada sumbernya.

J: Simpulkan..!!

T: Karena zat, nama dan sifat Fir’aun tidak memenuhi empat kriteria tuhan maka Fir’aun bukanlah tuhan yang patut disembah.

J: Ada pertanyaan lain?

T: Masya’allah.

J: Terima kasih kita ucapkan untuk Maulana Syekh Mukhtar Ra. (Syekh Thariqah Dusuqiyah Muhammadiyah). Saya sebutkan kembali: Muqtadlayat Uluhiyyah (kriteria tuhan) ada empat; Sabq, Ithlaq, Sarmadiyyah dan Dzatiyyah. Jika kita fahami dengan baik dan tepat maka jernihlah pikiran kita dalam membedakan antara Tuhan dan makhluk-Nya.

T: Bagaimana dengan sifat-sifat 20 yang wajib, ja’iz maupun mustahil bagi Allah? yang digagas oleh Imam Abul-Hasan al-Asy’ari?

J: Benar. Namun, terlalu panjang lebar, butuh segudang rincian, mengundang banyak pertanyaan dan perdebatan, kurang simpel, agak rumit dicerna, lumayan jauh dari kesederhanaan, cukup klasik dan tidak kontemporer, sangat memerlukan ringkasan yang lebih komprehensif dan mudah dicerna maupun difahami oleh semua orang serta lebih mampu mengkokohkan ketauhidan dan keimanan setiap muslim. Ada yang menyingkatnya menjadi 13 sifat saja, ada yang malah mengingkari dan merubahnya secara total, ada pula yang menerimanya seutuhnya namun tak mampu mengembangkan jangkauan kepercayaannya melalui teori teologi seperti itu.

T: Lalu apa saja sifat-sifat Allah menurut Thariqah Dusuqiyah Muhammadiyah ?

J: Sebelumnya, saya ingin mengemukakan bahwasanya Ahlussunnah wal-Jama’ah (oleh para ulama’) bukan hanya Asy’ariah wa Maturidiah saja, namun konsep ASWAJA meliputi 3 golongan / kelompok: Asy’ariah wa Mturidiah, Ahli hadits (ahli dalil sam’i), dan ketiga: para Mujaddid setiap zaman. Syekh Al-Qari’ menyatakan bahwasanya kaum sufi juga merupakan bagian dari ASWAJA, bahkan kaum sufi-lah sebaik-baik dan sekuat-kuat golongan walau mereka memiliki aqidah yang independen, berbeda dengan yang lain dalam metode dan beberapa furu’ dan fushulnya. Disamping kriteria tuhan yang Allah miliki, Ia juga memiliki sifat-sifat tertentu, yaitu (menurut Maulana Syekh Mukhtar Ra.) ada tujuh sifat; Alim (berilmu), Qadir (berkuasa), Murid (berkehendak), Hay (hidup), Sami’ (mendengar), Bashir (melihat), dan Mutakallim (berbicara / berfirman).

T: Manusia juga bisa memiliki ketujuh sifat itu..!!

J: Namun terlepas dari keempat kriteria tuhan.

T: Iya, benar..!

J: Sifat-sifat dan nama-nama Allah boleh saja dinisbatkan kepada selain Allah namun yang pasti terlepas dari Muqtadlayat Uluhiyyah yang mana itu telah menafikan ketuhanannya. Contohnya Nabi Isa as. adalah khaliq (pencipta) “Anni akhluqu lakum minaththini kahai’atiththayr” namun ke-khaliq-an beliau terlepas dari Muqtadlayat Uluhiyyah maka ia bukan tuhan walaupun mampu menciptakan, sebab ia menciptakan burung melalui izin Allah maka tidak dzatiy namun muktasab, dan tidak muthlaq melainkan muqayyad. Begitu juga nama Rahim, Karim, Kabir, Aziz, dll. jika dilekatkan pada selain Allah maka boleh saja tanpa dicampur dengan Muqtadlayat Uluhiyyah. Sebab bagaimanapun, tetap tidak akan Sabiq (masbuq), tidak Muthlaq (muqayyad), tidak Sarmadiy (yantahi / lahu nihayah), dan tidak Dzatiy (muktasab). Contohnya banyak dalam Qur’an: “Rasulin karim”, “Dzibhin Azim”, “Syaikhun kabir”, “Rasulun min anfusikum azizun”, dll. Kecuali nama Allah dan nama Arrahman, tidak boleh dinisbatkan kepada selain Allah, sebab sifat Uluhiyyah dan Rahmaniyyah tidak dimiliki oleh siapapun melainkan Allah Swt. saja.

T: Ooo…

J: Terkadang juga kita tidak menyadari bahwa nama ‘Allah’ bukanlah nama zat-Nya, melainkan ia adalah nama sifat ketuhanan-Nya, sebagaimana Rahim adalah nama sifat kasih sayang-Nya dan Karim sebagai nama sifat kemuliaan-Nya.

T: Lalu apa nama zat-Nya?

J: Karena zat-Nya adalah gaib mutlak maka nama zat-Nya pun gaib, tidak diketahui oleh siapapun melainkan orang-orang yang dikehendaki-Nya saja, nama zat-Nya itulah yang disebut dengan Ism A’zam yang kadang juga berubah setiap zaman dan berbeda-beda di setiap imam.

T: Ooo… Jadi Ism A’zam itu adalah nama yang mengisyratkan zat-Nya?

J: Iya. Berdo’a dengannya, pasti terkabul.. karena Ism A’zam itu merupakan kunci ghaib dan berubah-rubah setiap zaman pada imammnya sebab kunci ghaib tidak satu, tapi banyak sebagaimana firman Allah: “Wa’indahu mafatihul-ghaib” bukan: Wa’indahu miftahul-ghaib !! Ada pertanyaan lain?

T: Kapan seseorang itu dikatakan kafir?

J: Bila ia menisbatkan kepada Allah hal-hal yang Ia maha suci darinya.

T: Apa saja hal-hal itu?

J: Allah Swt. maha suci dari 10 perkara; Kam (kuwalitas), Kaif (kuantitas), Ain (tempat), Nid (pembanding), Dlidl (lawan), Syabih (keserupaan / kemiripan), Matsil (kesamaan), Syarik (sekutu), Zaujah (isteri), dan Walad (anak). Pokoknya apapun yang terlintas di benakmu tentang zat Allah maka Ia maha suci darinya (Wakullu ma khathara bibalika halik, wallahu bikhilafi dzalik).

T: Kapan seseorang itu dikatakan musyrik?

J: Bila ia menisbatkan sifat ketuhanan kepada selain Allah. Bila ia menyekutukan dan menuhankan selain Allah dengan menisbatkan kepadanya Muqtadlayat Uluhiyyah.

T: ………...............

J: kemudian hindarilah Awhaluttauhid..!!

T: Apa itu?

J: Awhaluttauhid merupakan kontaminasi bertauhid (hal-hal yang dapat menodai bahkan merusak ketauhidan seorang muslim).

T: Apa saja hal-hal itu?

J: Ada empat; Hulul, Ittihad, Tasybih dan Ta’thil.

T: Apa itu Hulul?

J: Hulul adalah berkeyakinan bahwasanya Allah Swt. telah menempati atau merasuki makhluk-Nya sebagaimana keyakinan kristen bahwa Allah Swt. telah merasuki Siti Maryam as. yang kemudian akhirnya melahirkan anak tuhan (Isa).

T: Apa itu Ittihad?

J: Ittihad adalah berkeyakinan bahwa Allah Swt. bersatu (menyatu) dengan makhluk-Nya sebagaimana keyakinan nasrani bahwa Allah telah bersatu dengan Isa.

T: Lalu apa itu Tasybih?

J: Tasybih adalah berkeyakinan bahwa Allah Swt. serupa dengan makhluk-Nya, yang kemudian lalu menyembah makhluk itu. Rasulullah Saw. bersabda: “Al-Mushawwiruna finnar”; Sesunguhnya orang-orang yang meyakini di dalam hati mereka bahwa Allah Swt. dapat digambarkan dalam bentuk tertentu kemudian mereka menyembahnya, maka mereka akan dijerumuskan ke dalam api neraka. Sebagaimana orang yang meyakini bahwa Tuhan menyerupai sapi kemudian mengkultuskannya, atau beri'tikad bahwa Tuhan menyerupai benda-benda luar angkasa seperti matahari, bintang, rembulan dan lain sebagainya.

T: Ta’thil?

J: Ta’thil adalah menafikan / mengabaikan (meniadakan) fungsi asma’-Nya, dan mengatakan bahwa Allah Swt. bekerja dengan zatnya, sementara nama-nama-Nya tidak berfungsi (hanya sebatas nama). Seakan menyerupakan Allah dengan manusia sebab nama-nama manusia hanya sebatas nama dan tidak bekerja. Sementara nama-nama Allah tentu beda dengan nama-nama manusia yang hanya sebatas nama. Zat Allah berbeda dengan zat kita, maka nama-nama-Nya pun tentu harus berbeda. Bila kita samakan maka inilah yang disebut Ta’thil sekaligus Tasybih.

T: berarti nama-nama Allah itu riil dan aktif bekerja, bukan sebatas nama sebagaimana nama-nama kita?

J: Iya.

T: Lalu?

J: Tentunya Allah maha suci dari bekerja dengan zat-Nya. Ia selalu bekerja dengan asma’ dan sifat-Nya.

T: Maksudnya?

J: Misalnya ketika Allah hendak menciptakan Nabi Adam as. Ia bekerja dengan nama al-Mubdi’, lalu ketika Allah hendak mengumpulkan bahan-bahan untuk menciptakannya maka Ia bekerja dengan nama (ism) al-Mujid, kemudian Adam mulai diciptakan Allah dengan nama al-Khaliq, kemudian dibentuk dengan nama al-Mushawwir, lalu dikokohkan dengan nama al-Qawiy dan al-Matin, kemudian dihidupkan dengan nama al-Muhyi, lalu penglihatan dan pendengarannya diaktifkan oleh Allah dengan nama Sami’ dan Bashir-Nya, kemudian Allah memberinya rizki dengan nama Raziq-Nya, begitu seterusnya sampai nyawa tercabut dengan nama al-Qabidl dan diwafatkan dengan nama al-Mumit kemudian dibangkitkan dengan al-Ba’its. Begitu pula nama-nama serta sifat-sifat yang lain masing-masing tidak athlan atau mu’aththal melainkan aktif bekerja sesuai kehendak dan ketentuan zat-Nya yang maha suci.

T: Ooo…

J: Sebagai pendekatan semata, saya ingin meberi contoh seorang presiden yang bertanggung jawab terhadap pendidikan, kesehatan, keamanan, transportasi, makanan dan ekonomi rakyatnya. Apakah ia mengurus semua itu dengan zatnya? mengajar sendiri di setiap sekolahan? merawat sendiri di setiap rumah sakit? memperbaiki jalan raya dengan tangannya sendiri (zatnya)? Tentu tidak, melainkan dengan sifat kepresidenannya. Dengan keaktifan bawahan-bawahan dan suruhan-suruhan-Nya. Namun semua itu adalah ketentuan dan urusannya pula sebab ia yang berkehendak dan berkuasa.

T: Ooo…

J: Rakyat tidak berinteraksi dan berkomunikasi dengan zat presiden secara langsung, melainkan dengan sifatnya sebagai pemimpin negara, dan berhubungan langsung dengan para pekerja yang telah dipekerjakan oleh presiden.

T: Ooo…

J: Maka dari itu, di saat kita berdo’a memohon rizki, kita mengadu dan bermunajat kepada-Nya dengan memanggil nama Razzaq-Nya (ya Razzaq), di saat sakit memanggil nama Syafi-Nya (ya Syafi), di saat miskin memanggil nama Mughani-Nya (ya Mughni), di saat lemah memanggil nama Qawiy dan Matin-Nya (ya Qawiyyu ya Matin), ketika dizalimil memanggil nama Hakam dan Adl-Nya (ya Hakamu ya Adlu), begitu seterusnya sehingga Allah pun segera mengaktifkan nama-nama-Nya yang dengannya Ia memenuhi hajat kita.

T: Ooo…

J: Kembali saya menyebut ulang Awhaluttauhid yang harus kita hindari sejauh-jauhnya; Hulul, Ittihad, Tasybih dan Ta’thil.

T: Masya’allah… Semoga tauhid kita kokoh dan tsabit.

J: Apa itu tauhid?

T: ……….!?!?!?!?

J: Tauhid itu artinya pengesaan, menyakini bahwa Allah itu esa, Allah itu ahad sekaligus wahid. Tauhid adalah membersihkan ke-ahad-an dan ke-wahid-an Allah itu dari hal-hal yang tidak layak bagi-Nya.

T: Ahad dan Wahid…?!?

J: Maulana Syekh Mukhtar Ra. mendefinisikan tauhid dengan: Tanzihul-ahad anil-adad wa tanzihul-wahid anitta’addud. Mensucikan sifat esa-Nya dari bilangan dan mensucikan sifat tunggal-Nya dari berbilang-bilang.

T: Apa perbedaan antara sifat esa (ahad) dengan sifat tunggal (wahid)?

J: Al-ahad la yu’ad wala yata’addad. Wal-wahid yu’ad wala yata’addad.

T: ……………..?!?!?!?

J: Ahad (sifat esa) itu bukanlah bilangan dan tidaklah terbilang (bukan satu. Maka tidak ada duanya), dan tidak pula berbilang-bilang (tidak banyak). Sedangkan wahid (sifat tunggal) itu terbilang (ia satu dan ada duanya bahkan tiga dan empatnya pun ada) namun walau demikian ia tetap tak berbilang-bilang (tidak banyak, tetap satu / tunggal).

T: …………….……

J: Allah Swt. itu maha ahad dan maha wahid. Ia ahad dari segi zat dan ketuhanan-Nya, dan Ia wahid dari segi asma’ dan sifat-Nya. Sebab zat-Nya tak terbilang dan tak berbilang-bilang, sementara asma’ dan sifat-Nya terbilang (1, 2, 3, sampai 99) namun yang memilikinya tak berbilang-bilang (tidak banyak, tetap satu yaitu Allah swt.).

T: ………………..

J: Untuk lebih mengerti perbedaan antara ke-ahad-an dan ke-wahid-an, maka sebagai contoh: anda sendiri… Anda itu ahad dan wahid. Ahad dari segi zat anda sendiri dan sidik jari yang anda miliki, tak terbilang satu, dan tidak ada duanya, dan hanya anda saja yang memilikinya. Sementara anda itu wahid dari segi sifat-sifat anda sebagai orang yang baik, pemurah, kuat, kaya dan lain sebagainya, sifat-sifat anda terbilang (1, 2, 3, 4….) namun anda tetap satu dan tak berbilang-bilang (tidak banyak) yaitu anda sendiri.

T: Ooo…

J: Maka dari itu, tauhid adalah membersihkan ahadiyah Allah dari adad (bilangan), dan membersihkan wahidiyah-Nya dari ta’addud (berbilang-bilang / banyak).

T: Bukannya ahad dengan wahid itu sama?

J: Tidak sama. Bila kita campuradukkan antara ahad dan wahid maka itu mengakibatkan ilhad “Wa dzarulladzina yulhiduna fi asma’ihi”, dan seolah kita telah mengatakan bahwa zat Allah itu banyak dan berbilang-bilang.

T: Ooo…

J: Ada pertanyaan lain?

T: …………

J: Ketahuilah juga bahwa Tauhid itu memiliki nama, kata dan simbol. Namanya: La ilaha illallah. Katanya: Allah. Simbolnya: Ha.

T: Maksudnya?

J: Sebagaimana United Stated of America sebagai nama, America sebagai kata / sebutan, dan USA sebagai simbol / singkatan.

T: ……………

J: Ada pertanyaan lain?

T: Bagaimana hubungan antara Allah, Nabi dan Wali?

J: Antara Tuhan, Nabi dan Wali tidak ada pemisahan dan sekaligus juga tidak ada penyatuan / pencampuradukan.

T: …………………….

J: Jika dipisahkan maka seolah-olah apa yang dimiliki oleh Nabi dan Wali bukan bersumber dari Tuhan melainkan dari diri mereka masing-masing. Nabi / Rasul adalah utusan Tuhan, Wali adalah kekasih Tuhan sekaligus pewaris Nabi. Maka tidak boleh dipisahkan “Walillahil-izzatu wa lirasulihi wa lil-mu’minin”… “Wa quli’malu fa sayarallahu amalakum wa rasuluhu wal-mu’minun”.

T: Dan jika disatukan maka terjadilah trinitas…..

J: Benar. Jadi kita harus tanam dalam lubuk hati kita Nuqthah Muhayidah agar dapat meraih Shirat Mustaqim. Tuhan tetap tuhan dan tidak akan berubah menjadi nabi atau wali. Nabi tetap nabi, tidak akan pernah berubah menjadi tuhan atau wali. Demikian pula Wali tetap wali, tidak akan pernah berubah menjadi tuhan atau nabi.

T: Artinya; nabi tidak boleh dituhankan dan wali tidak boleh dinabikan dan juga tidak boleh dituhankan?

J: Iya. Bila dicampuradukkan maka kita telah mengikuti jejak nasrani. Jangan pula dipisahkan karena bila dipisahkan maka kita telah mengikuti jejak wahabi yang selalu mengabaikan para utusan dan kekasih Tuhan dengan alasan bahwa kebaikan hanya ada pada Tuhan dan hanya boleh diminta langsung dari Tuhan, seakan-akan yang ada pada nabi dan wali itu bukan pemberian Tuhan untuk kita melalui mereka, seolah-olah Tuhan tidak pernah mengutus prantara, seakan-akan nabi dan wali tidak pernah ada fungsinya.

T: …………………

J: Allah berfirman : “Idz yaqulu li shahibihi la tahzan innallaha ma’ana”; Nabi berkata kepada Wali: Jangan bersedih, Tuhan bersama kita… amat jelas, sekali lagi, tidak boleh ada pemisahan dan tidak pula boleh ada penyatuan / pencampuradukan.

T: Boleh dijelaskan lagi tentang tidak bolehnya ada pemisahan?

J: Maulana Syekh Mukhtar Ra. menggagas sebuah kaidah yaitu: ‘Laisa ainuhu wa laisa ghairuhu’. Artinya: Para nabi dan rasul adalah bukan Allah dan bukan pula selain Allah. Para wali juga demikian, bukan Allah dan bukan nabi, bukan pula selain Allah atau selain nabi.

T: Bukan Allah sudah pasti. Bukan selain-Nya….?!?!?!

J: Bukan selain-Nya berarti: Mereka itu adalah utusan-utusan-Nya, suruhan-suruhan-Nya, kekasih-kekasih-Nya, prantara-prantara menuju-Nya, maka apa yang dibawa oleh mereka merupakan persis apa yang ada pada-Nya. Allah berfirman: “Barang siapa taat kepada Rasul maka ia telah taat kepada Allah” sebab Rasul walau ia bukan Allah (bukan zat Allah / bukan tuhan) namun ia juga bukan selain Allah, toh ia merupakan utusan yang ma’dzun dari Allah. Buktinya: Taat kepada Rasul = (sama dengan) Taat kepada Allah.

T: Ooo… Jadi fungsi diutusnya Rasul maupun Wali adalah untuk menyampaikan hidayah Allah kepada umat manusia yang dengan mentaati mereka maka telah mentaati Allah swt.

J: Al-khairu kulluhu biyadillah, yadla’uhu haitsu yasya’, wa alaina an na’khudzahu wa nathlubahu haitsu wadla’ahu. Segala jenis kebaikan ada di tangan Allah, namun Ia meletakkan kebaikan itu pada siapa saja yang Ia kehendaki. Kewajiban kita hanyalah mengemis kebaikan-Nya itu dimana Ia meletakkannya. Ada pertanyaan lain?

T: Bagaimana dengan ayat “Yadullahi fauqa aidihim”? Apa yang dimaksud dengan tangan Allah dalam ayat itu?

J: Setiap kata benda bila dinisbatkan kepada manusia maka penisbatan tersebut kadang merupakan nisbah juz’iyyah seperti kalimat Anfi (hidungku), Aini (mataku), Rijli (kakiku). Kadang pula penisbatan itu merupakan nisbah milkiyyah seperti Sayyarati (mobilku), Sa’ati (jamku), Kitabi (bukuku). Sedangkan bila sebuah kata benda dinisbatkan kepada Allah maka satu-satunya penisbatan tersebut adalah nisbah milkiyyah (kepemilikan), dan tidak ada kemungkinan sedikitpun bahwa penisbatan tersebut merupakan nisbah juz’iyyah yang berarti Allah tersusun dari pelbagai unsur.

T: Ooo…

J: Naqatullah (unta Allah), Narullah (neraka Allah), Abdullah (hamba Allah), Yadullah (tangan Allah)…. Semua yang dinisbatkan kepada Allah maka bermakna milik-Nya, bukan bagian dari-Nya. Dan oleh karena semua yang ada di dunia ini adalah milik-Nya maka tidak ada salahnya menisbatkan apapun kepada-Nya…. Komputer Allah, botol Allah, kursi Allah, pintu Allah, meja Allah, kaki Allah, hidung Allah, rambut Allah, dll. dengan catatatn: semua penisbatan itu merupakan nisbah milkiyyah semata, dan bukan nisbah juz’iyyah.

T: Iya iya iya…

J: Lalu bagaimana kita menafsirkan ayat “Yadullahi fauqa aidihim”?

T: Tangan milik Allah di atas tanagn-tangan mereka?

J: Iya, dan tangan milik Allah di sini adalah tangannya Rasulullah Saw. (tangan yang merupakan bagian dari jasadnya). Sebab jika seluruh jasad beliau adalah milik Allah maka bagian-bagian beliau pun adalah milik-Nya juga, sebagaimana seseorang mengatakan mobilku (mobil milikku secara keseluruhan) maka ia sangat berhak mengatakan juga: banku, kursiku, kacaku, sebab ia telah memiliki mobil secara keseluruhan maka bagian-bagiannya pun adalah miliknya. Rasul Saw. adalah milik Allah, maka tangan, kaki dan kepala beliau adalah milik Allah juga dan tidak salah dinisbatkan kepada-Nya dengan penisbatan kepemilikan.

T: …………………..Iya iya

J: Perhatikan redaksi ayatnya baik-baik: “Innalladzina yuba’yi’unaka innama yuba’yi’unallaha yadullahi fauqa aidihim”; Sesungguhnya para sahabat yang dibai’at olehmu hai Muhammad adalah sebenarnya mereka dibai’at oleh Allah… setelah itu Rasul meletakkan tangan suci beliau di atas tangan-tangan para sahabat (saat bai’at) lalu Allah melanjutkan: Tangan Allah di atas tangan-tangan mereka. Tangan Muhammad yang menjadi milik Allah itu di atas tangan-tangan mereka.

T: Masya’allah….

J: Ayat tersebut mengatakan “Fauqa aidihim” (di atas tangan-tangan mereka), bukan Fauqa aidikum (di atas tangan-tangan kalian)… berarti Rasul tidak termasuk mereka sebab tangan beliaulah yang saat itu berada di atas tangan-tangan mereka… Tangan Rasul itulah tangan Allah swt… Tangan bagian Rasul itulah tangan milik Allah swt.

T: Bukankah tangan-tangan mereka adalah milik Allah juga?

J: Hikmah dari ayat itu adalah untuk menguatkan bahwa Rasul dan Allah tidak boleh dipisahkan (Laisa ainuhu wa laisa ghairuhu). Taat kepada Rasul = taat kepada Allah. Bai’at dengan Rasul = bai’at dengan Allah (tidak beda sama sekali, kecuali dalam hal menyembah saja, maka hanya Allah-lah yang wajib disembah). Hikmah ayat itu untuk menambah keyakinan para sahabat bahwa Rasul bukanlah selain Allah (tidak boleh dipisahkan).

T: Iya iya, sekarang saya faham.

J: Ada pertanyaan lain?

T: Qur’an itu qadim atau hadits?

J: Qur’an itu qadim dan hadits. Qadim dari segi kalam Allah. Hadits dari segi qaul Rasulullah.

T: Perbedaan kalam dengan qaul?

J: Ibarat presiden yang mengirim salam kepada hadirin pada sebuah pertemuan. Walaupun ia tidak datang, namun melalui menteri, salam tersebut disampaikan. Ditinjau dari segi kalam, salam tersebut adalah kalam presiden. Sedangkan ditinjau dari segi qaul, salam tersebut adalah qaul sang menteri. Maka al-Qur’an adalah kalam Allah (qadim) sekaligus qaul Rasulullah (hadits) sebab beliaulah yang menyampaikannya kepada umat, maka al-Qur’an adalah qadim dan hadits. Allah berfirman: “Innahu laqaulu Rasulin karim”; Sesungguhnya al-Qur’an adalah qaulnya Rasul yang mulia.

T: Manusia itu musayyar atau mukhayyar?

J: Manusia itu mukhayyar dalam keadaan tahu dan mampu. Musayyar dalam keadaan tidak tahu atau tidak mampu. Orang yang mukhayyar disebut Abdu amr, sedangkan orang yang musayyar disebut Abdu iradah. Orang yang mukhayyar itu mukallaf dan dihisab, sedengkan yang musayyar tidak mukallaf dan tidak dihisab.

T: Allahu Akbar….!!!!

J: Apa maksudmu mengatakan Allahu Akbar?

T: Saya kagum.

J: Maksudku: apa artinya Allahu Akbar?

T: Allah maha besar dari segala sesuatu (Allahu Akbar min kulli syai’).

J: Apakah Allah adalah sesuatu (syai’) sehingga ukuran-Nya dibanding-bandingkan dengan ukuran sesuatu yang lain? apakah Allah berukuran besar dan panjang? Apa layak Allah dibanding-bandingkan dengan makhluk-makhluk-Nya?

T: Lalu apa makna Allahu Akbar?

J: Allah maha besar untuk diketahui (Allahu Akbar min an yu’raf). Allah itu muthlaq dan tidak muqayyad oleh ruang, waktu, ukuran maupun berat. Allah maha suci dari itu semua. Allah tidak bisa diketahui oleh siapapun. Allah maha besar untuk dideteksi atau diukur atau dikenal secara sempurna. Apapun yang terlintas di benak kita tentang-Nya maka Dia maha besar dan maha suci dari itu semua “Subhana Rabbika Rabbil-izzati amma yashifun”.

T: Ooo…

J: Syekh Abu Yazid al-Busthami Ra. pernah ditanya: Apakah Allahu Akbar berarti Allah maha besar dari yang selain-Nya (dari segala sesuatu / dari segala-galanya)? Beliau menjawab: Tidak ada sesuatupun bersama-Nya sehingga Ia menjadi lebih besar darinya. Beliau ditanya kembali: Lalu apa maknanya? Beliau menjawab: Allahu Akbar artinya Allah maha besar untuk dikias dengan manusia atau dijadikan sebagai alat mengkias atau dijangkau oleh panca indra (Akbar min an yuqasa binnas, aw yadkhula tahtal-qiyas aw tudrikahul-hawas).

T: Terima kasih sebelum dan sesudanhya, malam ini saya sudah dapat banyak ilmu.

J: Syai’ lillah Maulana Syekh Mukhtar.

Lihat Selengkapnya...>>

HUKUM MEROKOK

Para ulama' berbeda pendapat dalam hukum rokok, tetapi setelah merenung dan menyadari bahwa islam adalah agama yang bersih dari segala kotoran zahir maupun batin, dan islam adalah agama yang hanya mengajak kepada yang lebih baik, ternyata ia juga adalah agama yang mudah dan jauh dari berbagai kesulitan dan tasyaddud, al-Qur'an dan Sunnah adalah pegangan satu-satunya, dari itu mengapa bersusah payah? dan mengapa menyusahkan orang? Allah swt. berfirman : "Allah sama sekali tidak pernah berkehendak memberimu kesulitan walau sedikit". Rasulullah saw. bersabda : "Yang halal sudah nyata dan yang harampun telah nyata".

Para pembaca yang budiman, di dalam syari'at Islam yang benar, mudah dan suci, merokok ternyata hukumnya tidak haram, mengapa?

1. Allah swt. dan Rasul-Nya saw. tidak pernah menegaskan bahwa tembakau atau rokok itu haram.

2. Hukum asal setiap sesuatu adalah halal kecuali ada nash yang dengan tegas mengharamkan.

3. Sesuatu yang haram bukanlah yang memudlaratkan, dan sesuatu yang halal bukanlah yang memiliki banyak manfaat, akan tetapi yang haram adalah yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya walau bermanfaat, dan yang halal adalah yang dihalalkan oleh Allah dan Rasul-Nya walau memudlaratkan.

4. Tidak setiap yang memudlaratkan itu haram, yang haram adalah yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya baik itu memudlaratkan atau tidak. Cabe, daging kambing, gula, asap mobil, dll. juga memudlaratkan tapi tidak haram, mengapa justru rokok saja yang haram padahal masih banyak yang lain yang juga memudlaratkan?

5. Segala jenis ikan di dalam laut hukum memakannya halal sebagaimana yang diterangkan dalam hadits. Padahal banyak jenis ikan yang memudlaratkan di dalam laut tersebut, tetapi tetap halal walau memudlaratkan. Kalau kita mengharamkannya maka kita telah mentaqyid hadits yang berbunyi "Yang suci airnya dan yang halal bangkainya".

6. Kita boleh saja melarang atau meninggalkan tapi kata-kata haram tidak boleh terucapkan karena Allah berfirman : "Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah". Kita boleh mengatakan: Jangan merokok karena ia memudlaratkan, tapi tidak boleh kita mengatakan : Merokok itu haram, sebagaimana kita mengatakan kepada anak-anak kita : Jangan makan coklat karena ia merusak gigi, dan kita tidak pernah mengatakan : Makan coklat itu haram. Kita mungkin mengatakan : Memakan permen yang diberi sambel dapat menyebabkan penyakit influenza, namun tidak boleh kita mengatakan : Makan permen yang dicampur sambel itu haram.

7. Kalau rokok dikatakan bagian dari khaba'its maka bawang juga termasuk khaba'its, mengapa rokok saja yang diharamkan sementara bawang hanya sekedar makruh (itupun kalau akan memasuki masjid)?

8. Rokok adalah termasuk Mimma ammat bihil-balwa pada zaman ini.

9. Hadits “La dlarara wala dlirar” masih umum, dan bahaya-bahaya rokok tidak mutlak dan tidak pasti, kemudian ia bergantung pada daya tahan dan kekuatan tubuh masing-masing.

10. Boros adalah: menggunakan sesuatu tanpa membutuhkannya, dari itu jika seseorang merokok dalam keadaan membutuhkannya maka ia tidaklah pemboros karena rokok ternyata kebutuhan sehari-harinya juga.

11. Rokok adalah bagian dari makanan atau minuman sebab ia dikonsumsi melalui mulut, maka ia halal selama tidak berlebihan, Allah berfirman : "Makan dan minumlah dan jangan berlebih-lebihan" dan Allah telah menyebutkan makanan-makanan dan minuman-minuman yang haram seperti arak, babi, dll. dan ternyata Allah tidak menyebut rokok di antaranya.

12. Realita menunjukkan bahwa rokok ternyata memberi banyak manfaat terutama dalam menghasilkan uang, di pulau Lombok misalnya, hanya tembakaulah yang membuat para penduduknya dapat makan, jika rokok diharamkan maka mayoritas penduduk Lombok tidak tahan hidup. Allah berfirman: "Katakanlah hai Muhammad: Terangkanlah kepadaku tentang rezki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan sebagiannya halal. Katakanlah: Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu tentang ini atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?"

13. Terdapat banyak cara untuk mengurangi dan mencegah bahaya-bahaya rokok.

14. Qiyas kepada khamr tidak benar karena rokok tidak memabukkan dan tidak menghilangkan akal, justru seringnya melancarkan daya berfikir. Dan yang paling penting adalah haramnya khamr karena ada nash, dan tidak haramnya rokok karena tidak ada nash. Kemudian qiyas tidak boleh digunakan dengan sembarangan.

15. Rokok tidak ada hubungannya sama sekali dengan ayat "Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan" karena ayat tersebut membicarakan hal lain.

16. Adapun ayat "Dan janganlah kamu membunuh dirimu" maksudnya adalah bunuh diri, maka adakah orang yang sengaja membunuh dirinya dengan menghisap rokok? kalaupun ada jenis rokok yang sengaja dibuat untuk bunuh diri maka tetap yang haram bukan rokoknya akan tetapi yang haram adalah bunuh dirinya. Sebagaimana seseorang membunuh dirinya dengan pisau, maka yang haram bukan menggunakan pisaunya tetapi bunuh dirinya.

17. Mengharamkan yang bukan haram adalah termasuk dosa besar maka diharapkan untuk berhati-hati, Allah berfirman: "Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta : Ini halal dan ini haram, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidakah beruntung".

18. Banyak ulama' dan auliya' yang juga perokok bahkan perokok berat, apakah kita menyamakan mereka dengan para bajingan yang minum arak di pinggir jalan? Allah berfirman: "Apakah patut Kami jadikan orang-orang islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa? Mengapa kamu berbuat demikian? bagaimanakah kamu mengambil keputusan?", Allah juga berfirman: "Apakah orang yang beriman itu sama seperti orang yang fasik? Sesungguhnya mereka tidak sama", Allah juga berfirman: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?".

19. Banyak ulama' yang tidak mengharamkan rokok seperti : Syekh Syehristani, Syekh Yasin al-Fadani, Syekh al-Sistani, Syekh Muhammad al-Salami, Syekh al-Dajawi, Syekh Alawi al-Saqqaf, Syekh Muhammad bin Isma'il, Syekh al-Ziadi, Syekh Mur'i al-Hanbali, Syekh Abbas al-Maliki, Syekh Izzuddin al-Qasysyar, Syekh Umar al-Mahresi, Syekh Muhammad Alawi al-Maliki, Syekh Hasan al-Syennawi, Syekh Ahmad bin Abdul-Aziz al-Maghribi, Syekh Abdul-Ghani al-Nabulsi ra., Syekh Muhammad Utsman Abduh al-Burhani ra., Maulana Syekh Mukhtar ra., dll.

20. Dalam kitab Muntakhabat al-Tawarikh Lidimasyq, Syekh Muhammad Adib al-Hishni mengutip ungkapan seorang wali besar dan ulama’ ternama serta tokoh sufi terkemuka asal Syiria, yaitu Sidi Abdul-Ghani al-Nabulsi ra. (wafat tahun 1143 H.) yang berbunyi sebagai berikut :

دخان التبغ هام به البرايا # فطيب العود سفل وهو علو

مرارته حلاوة ذائقيه # ألا فاعجب لمر وهو حلو

Asap rokok menggoda selera;

Pun semerbak kasturi tertandingi.

Pahitnya, manis terasa,

Aneh, pahit kok manis rasanya.

21. Dalam buku yang sama menceritakan: Syekh Sunan Efendi yang lebih dikenal dengan sebutan Allati Barmaq, seorang mufti dan pakar fiqh bermazhab hanafi yang sempat meraih julukan Syaikhul-Islam pada zamannya, pernah membaca karya tulis Sidi Abdul-Ghani al-Nabulsi ra. tentang kebolehan merokok, yang berjudul: al-Ishlah bainal-Ikhwan fi Ibahat Syurb al-Dukhan, Syekh Allati Barmaq saat itu mengharamkan rokok, oleh karena itu ia sangat kontra dengan isi buku tersebut yang kemudian terjadilah adu argumen antara Syekh Allati Barmaq dengan Sidi al-Nabulsi yang akhirnya Syekh Allati Barmaq mengakui kebenaran Sidi al-Nabulsi lantas minta maaf, lalu dengan tegas mengatakan bahwa yang mengharamkan rokok adalah jahil, tolol, zindiq dan tak ubahnya dengan binatang hina. Sebab ternyata pada rokok terdapat rahasia Allah yang menyirati banyak khasiat dan manfaat. Aroma dan rasanya pun amat lezat. Ungkapan tersebut berbunyi sebagai berikut :

جهول منكر الدخان أحمق # عديم الذوق بالحيوان ملحق

مليح ما به شيء حرام # ومن أبدى الخلاف فقد تزندق

ألا يا أيها الصوفي ميلا # إلى الدخان علك أن توفق

ولولا أن في الدخان سرا # لما فاحت روائحه وعبق

ففي الدخان سر الله يبدو # وشاهده المحقق التي برمق

Sungguh tolol, yang tak peka asap rokok,

Bak hewan yang tak punya cita rasa.

Tak patut diharamkan,

Hanya kaum zindiq lah yang merekayasa.

Wahai para pecandu sufi,

Kenapa tak kau rengkuh rokok saja.

Andai tak ada rahasia,

Baunya pun tak kan lezat terasa.

Padanya; rahasia Sang Kuasa,

Ahli hakekat, Allati Barmaq sebagai saksinya.

22. Dalam kitab Jawahirul-Bihar fi Fadla’ilinnabiyyil-Mukhtar oleh Syekh Yusuf al-Nabhani, menyatakan sebagai berikut :

من جواهر العارف النابلسي قوله رضي الله عنه في رحلته الحجازية المذكورة : جاء إلى مجلسنا السيد عبد القادر أفندي على عادته، وكان يقرأ علينا في مختصر صحيح البخاري في أواخره فقرأ الحديث الذي أخرجه البخاري : عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : " من رآني في المنام فسيراني في اليقظة ولا يتمثل الشيطان بي " فتكلمنا على هذا الحديث بما تيسر وذكرنا رسالة الشيخ السيوطي التي سماها إنارة الحلك في إمكان رؤية النبي والملك، وذكرنا بعض قصص وآثار فأخبرنا السيد عبد القادر المذكور بأن هذه الرسالة عنده وجاء بها إلينا بعد ذلك في ضمن مجموع . ثم جرت معه مذاكرة في شرب الدخان فأخبرنا عن الشيخ أحمد بن منصور العقربي عن شيخنا الشريف أحمد بن عبد العزيز المغربي أنه كان يجتمع بالنبي صلى الله عليه وسلم مراراً عدة وأنه مرض مرضاً شديداً فسأل النبي صلى الله عليه وسلم عن شرب الدخان فسكت النبي صلى الله عليه وسلم ولم يرد له الجواب، ثم أمره باستعماله .

Artinya: Syekh Abdul-Ghani al-Nabulsi Ra. menceritakan sebuah perjalanannya menimba ilmu di tanah Hijaz : "Syekh Abdul-Qadir Efandi seperti biasa, hadir bersama kami untuk membacakan ringkasan Sahih Bukhari. Lantas, ia membaca hadits yang berbunyi; Dari Saidina Abi Hurairah dari Nabi saw. beliau bersabda; "Siapa yang bertemu aku pada saat mimpi; pasti akan bertemu denganku dalam keadaan terjaga, dan tak mungkin setan menyerupaiku" . Kami berdiskusi tentang hadits ini seraya mengutip karya Imam Suyuthi yang berjudul Inaratul-Halak fi Imkan Ru'yat al-Nabi wal-Malak. Syekh Abdul-Qadir Efandi menyebutkan bahwa ia memiliki karya tersebut sah secara silsilah dan akan disampaikan kepada kita (para santrinya). Selanjutnya kami berdiskusi tentang hukum merokok, lalu ia meriwayatkan: "Ada sebuah kisah dari Syekh Ahmad bin Manshur al-Aqrabi, dari Syekh Ahmad bin Abdul-Aziz al-Maghribi, ia menyatakan bahwa ia sering bertemu dengan Nabi saw. (dalam tidur maupun jaga). Suatu ketika ia jatuh sakit dan menemui beliau, kemudian menanya tentang hukum merokok, Nabi pun diam tak menjawab. Kemudian beliau malah menyuruhnya untuk merokok" !!!

وكان لأهل المدينة فيه غاية الإعتقاد وكان من أكابر الأولياء ومن محققي العلماء الأعلام رحمه الله تعالى .

Syekh Ahmad bin Abdul-Aziz al-Maghribi (yang senantiasa menjumpai Rasul dan sempat menanya beliau tentang rokok dan ternyata mendapat perintah untuk menghisapnya) adalah seorang pemuka kenamaan dan tokoh kepercayaan pada masanya. Seorang ulama’ berjasa besar bahkan waliyullah papan atas.

23. Boleh saja membuat peraturan-peraturan tertentu demi terjaganya kesehatan seperti membuat lokasi-lokasi khusus bagi para perokok, atau yang lainnya asalkan tidak mengharamkannya, itu saja, sekali lagi yang penting kita tidak mengharamkan yang halal sebab itu adalah dosa besar. Selanjutnya... terserah anda... Allah berfirman : "Katakanlah: Sesungguhnya kebenaran itu telah datang dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin percaya, hendaklah ia percaya, dan barang siapa yang ingin ingkar biarlah ia ingkar". * Zezo

Lihat Selengkapnya...>>

About This Blog

  © Blogger template The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP